Rakyat Menyambut Tarif Murah dengan Jangkauan Luas dan Jaringan Berkualitas
0leh : Mira Al-Hafiizah Harahap
Lonjakan panggilan dan SMS saat Idul Fitri tahun ini mencapai puncak tertinggi dalam sejarah pelayanan telekomunikasi di Indonesia. PT Exelcomindo Pratama Tbk (XL) mencatat jumlah traffic voice yang melalui jaringannya saat Lebaran 2008, untuk jumlah panggilan, meningkat 149% dibandingkan lebaran tahun lalu. Turunnya tarif telekomunikasi menjadi alasan yang mendominasi. Meskipun tarif murah, berdasarkan pantauan Departemen Komunikasi dan Informatika, para industri seluler di Indonesia mampu memberikan kualitas cukup baik, sehingga seluruh panggilan (outgoing-outcoming), SMS dan penggunaan internet berjalan mulus.
Prestasi ini kembali berulang pada saat Natal hingga tanggal 26 Desember 2008 dan diharapkan para penyelenggara telekomunikasi mampu mempertahankan prestasi ini menjelang dan saat Tahun Baru dengan meminimalisasi kemungkinan buruknya kualitas layanan serta menghindari dropped call cukup lama yang dapat mengganggu kenikmatan para pengguna layanan telekomunikasi
Bukti kesuksesan akibat komitmen yang tinggi dari perusahaan selular ini mengaburkan isu dan kritik ‘Tarif Murah, Kualitas Parah’. Karena sesungguhnya, harga turun tidak membuat para operator menyerah untuk berinvestasi dan berhenti membangun jaringan. Hal ini sejalan dengan pengamatan Maitland dan Tapia (2005), industri selular sebagai industri yang vibrant, suatu turbulent sector yang terus mengalami pertumbuhan meskipun harus menghadapi perubahan-perubahan teknologi, kebijakan dan struktur pasar.
1 April 2008 mencatat hari bersejarah untuk tarif telekomunikasi di Indonesia dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi No. 9/PER/M. KOMINFO/4/2008 tentang Penetapan Tarif Jasa Telekomunikasi yang Disalurkan melalui Jaringan Bergerak Seluler, sebagai saksinya. Pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informasi, menurunkan tarif layanan interkoneksi yang berdampak turunnya tarif komunikasi seluler, baik percakapan maupun layanan pesan singkat (SMS) sebesar 20-50%.
Dengan menurunkan tarif telekomunikasi yang terjangkau oleh masyarakat, Pemerintah tidak bermaksud merugikan operator telekomunikasi. Tarif telekomunikasi diturunkan setelah pihak Dirjen Postel melakukan kajian terhadap tarif telekomunikasi dan biaya interkoneksi berdasarkan demokrasi berbagai operator mengenai tawaran tarif interkoneksi serta perbandingan tarif telekomunikasi di negara-negara lain. Selain itu, struktur biaya telekomunikasi setiap tahun berubah sesuai dengan perkembangan teknologi dan tarif interkoneksi secara akumulatif akan turun, sehingga tarif telekomunikasi dapat diturunkan.
Memang tarif rendah akan mengikis pendapatan perusahaan telekomunikasi karena Average Revenue Per User (ARPU) pelanggan semakin menurun. Namun, banyak strategi yang bisa dilakukan operator telekomunikasi untuk menyiasati penurunan tarif, secara garis besar diantaranya, reengineering teknologi, re-balancing, re-configuration, dan re-design pola operasional.
Hal ini disebabkan komponen pendapatan dalam industri telekomunikasi tidak melulu dari aspek tarif, namun juga dari jumlah pelanggan, waktu pemakaian dan besarnya jangkauan layanan operator telekomunikasi. Produk, jangkauan, kapasitas, waktu pakai dan target pelanggan ditingkatkan, sehingga trafik pemakaian layanan selular dapat meningkat pula. Kebijakan pembuatan menara terpadu yang bisa digunakan beberapa operator seluler, juga dapat membantu pendapatan perusahaan telekomunikasi. Selain itu, value added services (VAS), seperti SMS WAP, SMS Premium, Content game, SMS Kuis, Nada Sambung Ringback Tone (RBT), mampu menolong total pendapatan. Bagi XL, VAS memberi andil dalam jumlah pendapatan akhir sebesar 5-10%.
Oase di padang pasir
Saat kebutuhan – kebutuhan pokok lain meningkat tajam, tarif telekomunikasi justru mengalami deflasi. Teknologi informasi yang terus berkembang seiring dengan hiruk pikuknya aktivitas masyarakat menjadikan telekomunikasi sebagai kebutuhan primer bagi kebudayaan masyarakat, baik modern maupun tradisional.
Turunnya tarif, tentu seperti oase di padang pasir karena biaya telekomunikasi yang harus dikeluarkan tidak sebanyak dulu. Maka tidak heran bila tarif telekomunikasi yang baru ini melipatgandakan jumlah konsumen. Tarif interkoneksi semakin murah menjadi magnet yang akan menarik pelanggan semakin banyak. Ini akan membuat pendapatan perusahaan telekomunikasi bisa meningkat lagi.
Melonjaknya jumlah konsumen memunculkan beragam situasi dan sikap yang berdampak dalam kehidupan sosial dan ekonomi rakyat Indonesia.
Sosialisasi, dihidupkan atau justru dibunuh ?
Menurut AM Townsend (2000), di negara-negara berkembang ponsel telah mengurangi kesenjangan berkomunikasi di masyarakat. Namun begitupun, bila biaya komunikasi terlampau tinggi, orang lebih memilih berkomunikasi untuk hal yang darurat saja. Dengan biaya yang rendah, jalinan komunikasi antar sesama individu direkatkan kembali. Masing-masing individu bisa saling menularkan semangat, bertukar pikiran dan perasaan, berbagi pengetahuan, informasi dan pengalaman. Dengan demikian, persatuan dan kesatuan bangsa dapat ditingkatkan, karena hubungan antar masyarakat lebih dinamis.
Hans Geser (2003), menyatakan, paling tidak ada lima implikasi dari penggunaan ponsel. Pertama, terhadap setiap individu yang menggunakannya, kedua terhadap interaksi antar individu, ketiga terhadap pertemuan tatap muka, keempat terhadap kelompok dan organisasi, dan kelima terhadap sistem hubungan di organisasi dan kelembagaan di masyarakat
Bagi pembelajaran seorang anak, telepon seluler mengajarkannya untuk menilai sifat dan karakteristik lawan bicaranya meski tak pernah bertemu. Dia juga mampu untuk luwes dalam berperilaku dengan kelompok bicara yang baru dikenalnya.
Namun demikian, bukan tidak mungkin internet dan telepon seluler dapat mematikan sosialisasi dan kepedulian terhadap sesama. Hal ini disebabkan, kemudahan yang diberi oleh internet dan teknologi seluler, menurunkan komunikasi tatap muka. Orang-orang merasa cukup dengan menelepon, SMS atau chatting tanpa merasa perlu untuk bertemu secara langsung.
Di lain pihak, menurunnya komunikasi tatap muka ternyata sangat bermanfaat bagi individu yang sulit tampil di depan umum. Dia bisa melakukan interaksi dan komunikasi di ruang publik meskipun secara fisik dia tidak berada di depan publik.
Teknologi telekomunikasi tidak bisa disalahkan untuk semua dampak negatif yang hadir. Aplikasi tiap individu terhadap teknologi berlandaskan akal, karakteristik diri, prinsip hidup dan norma-norma sosial yang dipegang teguh, menjadi nakhoda yang akan menenggelamkan atau membawa dengan selamat kapal teknologi tersebut .
Mencetak generasi cerdas
Berkaca pada usaha yang dilakukan pemerintah Pakistan, upaya mendekatkan kontribusi industri selular ke dunia pendidikan dapat dilakukan melalui tujuh hal (Haq, 2005). Ketujuh hal ini tercakup dalam suatu action plan yang berisi kewajiban bagi semua carriers untuk melakukan layanan secara universal, deregulasi telekomunikasi, pembuatan kebijakan industri selular, pengadopsian wireless local loop, pengembangan local content, akses tepat untuk perangkat lunak dan kemudahan akses publik terhadap informasi.
Menurut H.A.R Tilaar (1999), kemampuan informatif menghendaki kemampuan seseorang untuk menganalisa informasi yang diperoleh. Untuk mewujudkan pendidikan yang berorientasi kemampuan informatif ini, industri seluler dapat menjadi katalisator dengan berbagai cara.
Pertama, membangun terminal kuliah jarak jauh dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai standar nasional pendidikan. Kedua, meluncurkan program internet khusus sekolah dengan harga murah tanpa mengurangi kualitas dengan sosialisasi situs-situs pendidikan dan pemberian filter terhadap situs-situs porno. Ketiga, menghadirkan layanan perpustakaan seluler yang mampu memberikan informasi seputar ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai pertanyaan masyarakat. Untuk mewujudkan ide ini, operator seluler dapat bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI, PDII LIPI, Kementrian Riset dan Teknologi, dan Depdiknas sebagai content provider. Keempat, memberi bea siswa pendidikan.
Murahnya tarif telekomunikasi akan memberi banyak kesempatan pada pelajar untuk menikmati akses internet berupa e-book dan informasi pendidikan lainnya, layanan perpustakaan seluler, dan kuliah jarak jauh online.
Wajah-wajah kriminalitas bermunculan
Tarif murah membawa angin surga bagi manusia-manusia berbakat penjahat dan berpotensi kriminal. Mulai dari penipuan, perampasan sampai ancaman yang dimodifikasi dalam SMS atau panggilan. Juga pornografi yang berbuah pornoaksi, disebarluaskan dalam payung teknologi seluler dan internet.
Menyelamatkan daerah-daerah tertinggal
Kepedulian melayani hingga daerah terpencil dan memajukan perekonomian daerah merupakan salah satu cara untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari keterisolasian komunikasi dan informasi sekaligus memajukan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju.
Dalam membangun daerah tertinggal, operator berperan konstruktif sehingga bisnis yang sedang dihadapi mampu beradaptasi mengikuti irama dunia bisnis yang lebih luas dengan bersandar pada kompleksitas dan dinamika bisnis lokal, regional bahkan global. Dengan demikian, suatu daerah cepat terintegrasi dengan arus ekonomi dan bisnis yang lebih luas sehingga mampu mencapai target berupa taraf kemakmuran dan kesejahteraan.
Apabila filosofi “Turut Membangun Budaya Bisnis dan Ekonomi Bangsa Ke Arah Kemajuannya” telah disadari dan diadopsi, maka keterpisahan di antara aktivitas mencari laba dan aktivitas social akan memudar. Dengan filosofi tersebut, provider akan mengerti bahwa pencarian laba yang benar dengan cara ikut membangun kemajuan dan kekuatan bisnis dan ekonomi bangsa yang hebat. Selain itu, pembangunan sosial hanya akan bisa dicapai secara sejati lewat profesionalisme usaha dan kerja.
Membangun daerah tertinggal sesungguhnya bukan merupakan aktivitas kuratif, namun merupakan investasi, terutama jika pada akhirnya kehidupan bisnis dan ekonomi di daerah tertinggal tersebut berkembang, maka pelanggan pun bertambah.
Industri seluler dapat mempercepat pembangunan daerah tertinggal. Hal ini disebabkan, pembangunan infrastruktur teknologi seluler relatif lebih murah, cepat serta penetrasi sampai ke pelosok-pelosok daerah yang tertinggal. Perluasan pemakaian teknologi seluler juga akan memudahkan masyarakat mengakses sebanyak-banyaknya potensi dari daerah tertinggal bersangkutan. Selain itu, teknologi seluler mudah diperoleh dan digunakan serta tarif murah. Mudah dan murahnya berkomunikasi merupakan awal yang baik untuk keluar dari ketertinggalan.
Dengan memanfaatkan 80% dari total anggaran untuk investasi jaringan layanan, berupa peningkatan kapasitas transceiver receiver TRX untuk meningkatkan kapasitas layanan, dan perluasan cakupan jaringan dengan menambah 4000 menara pemancar Base Transceiver Station, XL mempunyai peluang besar untuk membuka keterisolasian dan menyatukan daerah-daerah tertinggal serta memeratakan pembangunan melalui layanan telekomunikasi selular.
Produktivitas ekonomi
Pada perusahaan-perusahaan yang sangat tergantung pada teknologi informasi dan telekomunikasi, murahnya tarif akan menurunkan pula biaya produksi dan operasional, sehingga harga jual produk dapat diturunkan juga.
Murahnya tarif juga akan meningkatkan daya beli masyarakat yang berujung pada peningkatan perekonomian nasional.
Namun, bagi perusahaan baru di sektor industri seluler, penurunan tarif menjadi malapetaka besar. Di tengah-tengah provider-provider raksasa, perusahaan baru itu akan merugi karena tidak mampu mengimbangi penurunan tarif sehingga mengalami pertumbuhan yang kerdil. Hal ini disebabkan terjadinya duopoli di sektor industri telekomunikasi.
Perang tarif, masyarakat makin semangat !
Henry Clay (1832) menyatakan “…of all human powers operating on the affairs of mankind, none is greater than that of competition,” untuk menggambarkan pentingnya persaingan bagi manusia. Persaingan turut membuat teknologi telekomunikasi semakin maju dan semakin murah biayanya. Persaingan pasti akan meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
UU Nomor 36 Tahun 1999 jelas mengajak persaingan (kompetisi) dalam bisnis telekomunikasi karena diyakini akan merangsang investasi.
Kompetisi antar operator dengan aksi banting harga yang diwujudkan dalam perang tarif, sangat menguntungkan konsumen. Peluru berupa iklan outdor dan visual, ditembakkan pada pelanggan eksisting, calon pelanggan dan pelanggan kompetitor. Gairah perang tarif dalam sekejap dapat menular pada konsumen hingga membuahkan daya beli tinggi. Konsumen yang terjaring pun berlipat-lipat. Hal ini seirama dengan pernyataan Heru Sutadi (2005) bahwa sedikitnya ada tiga alasan meningkatnya pengguna telepon seluler, yaitu lifestyle serba going mobile, daya beli yang meningkat, dan iklim kompetisi antar operator.
Perang tarif akan mempertahankan eksistensi operator selular dan memperluas penetrasi pasar sehingga mampu menggenjot performa perusahaan dengan meningkatkan market share.
Namun, mempertahankan pelanggan tidak cukup hanya dengan promosi dan perang tarif. Operator diharapkan mampu menancapkan kepercayaan pada konsumen dengan meningkatkan kualitas jaringan. Seperti yang dikemukakan Joedi Wisoeda, Vice President Xl Central Region, persaingan operator seluler Indonesia saat ini berada di antara stage perang tarif dan perang kualitas. XL bersaing pada level ini, memberi tarif murah, dan menyeimbangkannya dengan kualitas jaringan.
Naskah ini sedang diikutkan dalam XL Award Writing Competition
<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>
<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>
REFERENSI
Haq, Tanveer ul. 2005. “Pakistan Digital Divide Update: Pakistan Education and Research Network”. Higher Education Pakistan. Daegu, Korea. 24 May 2005.
Maitland, Carleen dan Andrea Hoplight Tapia. 2005. “Competition in the US Cellular Industry: The Role and Prospect for Small Carriers”. Paper at 33rd Annual Telecommunication Policy Research Conference. Arlington, VA. 23-25 September, 2005.
Fritz E Simandjuntak. 2005. “Aspek Sosial Telepon Seluler”. Available at http://sports.groups.yahoo.com/group/ Komunitas-Baseball-Softball-Indonesia
Romi Febriyanto Saputro. 2006. Memotret Industri Seluler Dari Jendela Pendidikan. Available at http://www.wedangjae.com
Lilik Agung. 2007. Kontribusi Operator Seluler dalam Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal. Available at http://www.blogger.com
Hasil Survei IDM Mengenai Dampak Penurunan Tarif Seluler. 2008. Available at http://www.antara.co.id
Siaran Pers No. 35/PIH/KOMINFO/12/2008: Monitoring Kualitas Layanan Telekomunikasi Dalam Suasana Natal 2008 dan Menjelang Tahun Baru 2009. 2008. Available at http://www.postel.go.id
A. Mohamad B. S. 2008. Tren Tarif Telekomunikasi Akan Terus Turun. Available at http://www.swa.co.id
Husendro. 2007. Perang Tarif Antar Operator Seluler GSM-CDMA: Menguntungkan atau Merugikan Konsumen? Available at http://www.legalitas.org
Eko Prasetyo Dharmawan. 2007. Operator Seluler dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Available at http://kedaisinau.multiply.com